Sabtu, 04 Februari 2012

asal usul

Pecinta Alam, sejak awal pendiriannya bergelut dengan sejumlah problematika yang menyangkut eksistensi dirinya, baik dalam tatanan lingkungan masyarakat umum, perguruan tinggi maupun ditingkat SLTA.
Ketidak mampuan pencinta alam dalam mendefinisikan dirinya sendiri, menjadi salah satu hambatan utamanya, menyebabkan ketidakmampuan dalam menarik benang merah yang jelas antara pecinta-alam dan non pecinta-alam.
Sejumlah gagasan untuk menarik garis merah definitif ini, seringkali bukan menghasilkan persepsi yang konvergen, melainkan justru memperlebar arti, sehingga menambah kekaburan persepsi.
Sebut saja dalam sarasehan nasional penjajagan pembentukan kurikulum standard, yang dilaksanakan oleh Himpala ITENAS, di Pusdikpom Cimahi tahun 1996 yang lalu, dimana tak kurang dari 21 instansi diundang untuk memberikan masukan filosofis, yang diharapkan akan dapat menghasilkan pendekatan konsepsional.
Namun yang mengejutkan, ternyata tak satupun instansi, lembaga, badan yang diundang , mampu mempersepsi nilai dan arti dari pecinta alam itu sendiri, bahkan yang lebih menyedihkan justru datang dari sebuah organisasi besar Pecinta Alam Jakarta, yang berpandangan bahwa Pecinta Alam terdiri atas 3 jenis kelompok.
Dalam makalahnya disebutkan bahwa pecinta alam dibagi dalam :
- Penikmat Alam
- Penyelidik Alam
- Petualang Alam.

bahwa 3 kriteria yang diterangkan diatas sebagai Pecinta alam, tak satupun memenuhi persyaratan sebagai Pecinta Alam.
Pecinta alam yang sesungguhnya, sudah lama menanggung resiko atas hembusan pemikiran diatas, dimana kadang hujatan masyarakat bahwa pecinta alam merusak lingkungan, arogan, merepotkan ketika celaka atau hilang di gunung, dsb., terpaksa ditelan sebagai pil pahit.
Betulkah para penikmat, penyelidik atau petualang itu adalah Pecinta Alam ?, sungguh pertanyaan yang harus dijawab, sekaligus meruntuhkan mythos yang telah lama mendistorsi fakta, bahwa terdapat perbedaan yang nyata dan mutlak , antara pecinta-alam dengan 3 jenis golongan pegiat alam terbuka diatas.
Jika kita usut dati arti dan nilai kata “Pecinta-Alam” itu sendiri maka kita akan mendapatkan makna sbb :
Pecinta, artinya adalah orang yang melakukan pekerjaan mencintai, sementara cinta itu sendiri berdasarkan pemikiran psikolog Erich Fromm, setidaknya harus menyertakan 3 buah entitas, yaitu adanya :
1. “Passion” atau greget sebagai manifestasi dari adanya ketertarikan secara fisik inderawi.
2.“Intimate” atau adanya hubungan intim, aman, dan akrab yang membentuk hubungan saling percaya.
3. “Commitment” atau adanya kesedian untuk rela berkorban secara sadar, atas hubungan interaksi yang terjadi.

Seorang penikmat, penyelidik atau petualang, mungkin dengan mudah mempunyai rasa “passion” maupun “intimate” dengan alam disekelilingnya, namun belum tentu mempunyai “commitment” atau kesiapan dan kerelaan untuk berkorban, jika terjadi sesuatu pada alam yang digelutinya.
Pembeda dari penikmat, penyelidik dan petualang dengan Pecinta-Alam, terletak dalam “commitment” yang telah ditanamkan sejak awal, dalam masa pembentukan kepribadian pecinta alam saat mengikuti pendidikan dasar, dan dibangun lebih kokoh dalam pengembaraan serta pergaulannya dengan alam itu sendiri.
Penikmat, hanya cenderung menikmati, menghisap segala energi keindahan yang terdapat dialam, layaknya kumbang yang siap mencumbu dan menikmati keranuman sekuntum bunga, namun ketika madu telah habis, maka dia segera pergi, dan pindah pada bunga yang lainnya.
Penyelidik , lebih tertarik dengan menempatkan alam dalam perannya sebagai “objek” semata, yang dipandangnya dengan cara “objektif-ilmiah” yang sangat mengedepankan pola reduksionis-analitatif-materialistik, serta kehilangan makna integratif alam itu sendiri, baik sebagai objek maupun subjek.
Petualang, lebih melihat alam sebagai tantangan, sebagai media tempatnya berlatih, dan mengembangkan serta meneguhkan paradigma “macho-isme” serta superioritas manusia terhadap alam itu sendiri, dengan konsep “menantang dan manaklukan-alam”.
Paradigma diatas dikembangkan dengan memakai pendekatan Cartesian-Newtonian yang mambagi alam dengan ”res-extensa” yaitu manusia yang berfikir, dan “res-cogitans” atau alam, dimana eksploitasi, penaklukan, pencengkraman, pengendalian dll., dari manusia terhadap alam menjadi sangat sah untuk dilakukan.

Sejak 300 tahun yang lalu, alam dipandang sebagai sebuah mesin besar, sehingga dengan mudah untuk dipreteli dan dibangun kembali, hanya dengan mengandalkan rasionalisasi/teknologi semata.
Padahal kita tahu, peradaban modern yang dibangun dengan paradigma cartesian-newtonian, telah mulai menunjukan kebangkrutannya disegala bidang kehidupan maupun disiplin keilmuan.
Pendekatan Cartesian-Newtonian, menjuruskan pandangan manusia pada konsep materialistik yang serba terkuantifikasi, serta menetapkannya sebagai basis dari “ilmiah-objektif “, dan siapapun yang keluar dari basis itu, akan segera dihakimi dengan “tidak-ilmiah”.

Budaya macho-isme yang senantiasa berfikir logis-analitatif-rasionalistis-reduksionis dan sekaligus materialitis-mekanistik, adalah kebalikan dari budaya feminisme yang meneguhkan arti dari sintesa-integratif, intuitif, dan mengedepankan aspek-aspek ekologis serta pemeliharaan. Adalah benar bahwa Pecinta Alam seringkali juga tergusur pada pandangan budaya macho-isme tadi, dan menyadikan dirinya individu arogan yang jauh dari pendekatan “eco-labelling” atau ramah pada lingkungan sesamanya.

Pecinta alam yang berangkat dari ketidak-setujuannya atas azas kepanduan yang dirubah menjadi kepramukaan pada medio 60-an yang lalu, semakin menampakan sosoknya sebagai petualang sejati, dan hal ini sesuai dengan konsep Sir Baden Powell of Gilwell , bapak Kepanduan dunia, dalam bukunya “Adventuring to Manhood”. Kejantanan adalah petualangan, dan manakala konsep ke Pecinta-alaman mulai diketengahkan, lengkap dengan komitmennya untuk rela berkorban, banyak diantara mereka yang merasa gamang dan risih dengan sebutan tersebut, bahkan sebutan “pecinta-alam” seringkali dianggap terlalu mulia.

Apapun alasannya, penulis berpendapat bahwa ketidak-beranian menyebut dirinya pecinta-alam, bukan karena sebutan tersebut terlalu mulia, namun lebih banyak diakibatkan karena keengganan pecinta alam itu sendiri, untuk terikat pada suatu bentuk komitmen tertentu, yang dirasakan akan menghalangi kebebasannya berekspresi.

Penolakan pada komitmen, artinya menolak adanya peningkatan kesadaran, dan penolakan terhadap kesadaran, berarti penolakan untuk tumbuh dan berkembang.
Penolakan untuk tumbuh, menyebabkan corong wawasan persepsinya (cone of perception) akan terbatas dalam melihat berbagai realitas, dan cenderung memandang segala sesuatu yang tidak nyata, sebagai alam ilusi / maya belaka.

Akibatnya bisa diduga, pecinta alam hanya akan bermain dalam dunianya sendiri, dan alam/realitas lain yang tidak mampu dipersepsinya, akan dianggapnya realitas semu, yang tidak usah ditanggapi.

Pecinta alam, sedikit demi sedikit kehilangan hal yang paling esensiel dalam dirinya, yaitu kepekaan pada dunia disekelilingnya, akibat berhentinya aliran rasa, akibat penolakannya pada realitas, akibat menyempitnya corong persepsinya sendiri.Padahal sesungguhnya dunia ke Pecinta-Alaman menyediakan sekian banyak aspek, yang mampu memberikan nilai positip bagi kesadaran pada khususnya, serta kehidupan manusia pada umumnya.

Kepecinta-alaman adalah sebuah sistem-nilai , dan juga jalan hidup atau “the way of life”, sementara kegiatannya bergumul dialam terbuka adalah satu dari sekian banyak bentuk ekspresi dirinya dalam mengapresiasi alam dan kehidupan ini.

Menikmati alam, menyelidiki alam, pengembaraan di alam, dll., adalah bentuk dan media kegiatan, tetapi samasekali bukan tujuan itu sendiri, karena tujuannya adalah mencari bentuk dan hubungan esensiel, antara manusia sebagai khalifah, serta alam yang memberinya energi hidup. Azas ke pecinta-alaman adalah sebuah nilai, sementara kegiatan di alam terbuka, bak ibadah ritual bagi seorang pemeluk agama, karena dengan ibadah ritual, maka sebuah manifestasi dari persepsi yang menyeluruh, mampu untuk ditegakkan.

Namun pemeluk agama tidak pernah men-Tuhan-kan cara ibadahnya, seperti men-Tuhan-kan shalat, Qur’an, Nabi, Zakat, Haji dll., karena Tuhan hanya Allah semata.
Demikian halnya dengan Pecinta Alam,yang memandang sistem-nilai Pecinta Alam itu sendiri sebagai sebuah ujud yang esensiel, sementara yang lainnya hanyalah bersifat ekspresi dari sistem nilai yang diyakininya tadi





Label:

2 Komentar:

Pada 15 Desember 2014 02.30 , Blogger Darmawansyah Gunawan mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

 
Pada 15 Desember 2014 02.44 , Blogger Darmawansyah Gunawan mengatakan...

mas mohon ijin tulisannya saya pakai sebagai bahan diskusi dan mengutipnya di tulisan untuk seminar tentang pecinta alam. terima kasih sebelumnya.

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda